Perawat berdiskusi

Menunggu Revolusi Keperawatan di Indonesia

Posted by diskusiperawat on November 23, 2008

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Perkembangan pendidikan keperawatan di Indonesia sudah semakin cepat saja. Hampir di setiap kabupaten sekarang ada sekolah perawat baik itu setingkat diploma 3 tahun atau setara Strata 1 atau Sarjana. Hampir semua program Sarjana menyelenggarakan pendidikan profesi Ners. Perkembangan ini jelas seperti pernah saya katakan pada teman-teman sewaktu saya masih kuliah di akper bahwa keperawatan akan terus berkembang.

Masih teringat waktu itu ucapan salah seorang perawat senior di salah satu ruangan ketika saya praktik klinik, “Buat apa sekolah akper Dik, pekerjaannya sama saja seperti SPK…” atau yang lainya yang sering memojokkan atau mungkin menyemangati, “Wah mahasiswa akper tidak dapat diandalkan, lihat tuh anak-anak SPK sangat terampil…”

Tetapi waktu terus berjalan, pendidikan SPK lambat laun termakan zaman, bahkan barangkali sekarang sudah punah. Jadilah rame-rame para perawat yang berijazah SPK mengikuti studi lanjut ke tingkat D3. Dan terjadilah Booming pendidikan D3 Keperawatan hampir di seluruh Indonesia kalau tidak salah sekitar tahun 95-an. Pada waktu itu saya bekerja di salah satu akper di Medan. Akper pun menjamur di mana-mana.

Sekitar tahun 1984 sebenarnya pendidikan keperawan setingkat S-1 sudah berdiri. Tepatnya di fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Beberapa tahun kemudian alumninya pun menjadi barang mahal. Hampir 100 % lulusan pasti terserap.

Tahun 1997 saya melanjutkan ke PSIK UI. Lagi-lagi saya mendengar kata-kata serupa ketika saya masih di Akper yang kurang lebih isinya seperti ini, “Buat apa Dik sekolah S-1, Akper saja sudah cukup…” Ini masih belum seberapa, seorang senior saya yang alumni PSIK bahkan dianggap tidak “mumpuni”, sampai-sampai beliau hanya ditugasi sebagai tukang panggil pasien di poliklinik rawat jalan di suatu rumah sakit di Jakarta. Wow!!

Waktu terus bergulir, tahun 1999 saya menyandang gelar S.Kp., gelar yang sangat ampuh waktu itu. Saya masih sempat merasakan kejayaan sebagai alumni S-1 Keperawatan kurang lebih 5 tahun. Tetapi waktu terus bergulir, lambat laun gelar SKp. sudah tidak ampuh lagi. Sudah muncul lagi gelar ampuh lain saat ini yaitu Master Keperawatan. Tapi Jangan senang dulu, masih ada lagi gelar Doktor bahkan Professor.

Uraian panjang lebar tersebut sebenarnya adalah pengantar. Jika saya boleh meramalkan 10 tahun lagi akan ada revolusi di bidang Keperawatan. Mengapa saya katakan revolusi yang artinya perubahan secara cepat? Karena pada dasarnya Profesi Keperawatan sekarang sedang dianaktirikan. Pendidikan Jenderal penghargaan kopral. Perawat banyak dirugikan dalam tatanan pekerjaan maupun kebijakan pemerintah.

Lihat saja dunia Politik Indonesia, Megawati dizalimi bisa jadi presiden, SBY dizalimi juga bisa jadi presiden. Kita tunggu waktu saja. Perawat dizalimi apa yang kemudian terjadi? Ayo Ners buatlah revolusi, jangan cuma sibuk mendirikan pendidikan tinggi atau berebut jabatan tinggi.

Hal terpenting dari tulisan ini adalah, jangan sampai kita terbuai dengan status quo kenyamanan sekarang. Kalau boleh saya pinjam istilah orang bijak, “Tidak ada yang abadi di dunia ini, yang abadi adalah Perubahan itu sendiri.”

Kita lihat saja dunia, Ners Indonesia mau berubah.

(Artikel di ambil dari http://nersmanajer.blogspot.com)

=======================================================

wahh…tulisan yang menarik.

tapi coba kita liat dari sumber masalahnya. Pendidikan tinggi tapi tidak disertai dengan kompetensi yang memadai.

nah,berarti memiliki pendidikan tinggi tidak salah. kompetensi yang rendah itu yang merugikan.

level pendidikan semakin bertambah tinggi tentu disesuaikan dengan permintaan/perkembangan jaman, tapi tentu itu harus diikuti dengan kompetensi yang searah. dengan kata lain, pendidikan tinggi maka kompetensinya juga harus OK.

kenapa bisa ada pendidikan tinggi tapi kompetensinya rendah? menurut saya jawabannya ada di regulator, dalam hal ini pemerintah. lihat aja sampai sekarang pemerintah tidak memiliki kontrol yang pasti terhadap sekolah2 perawat. STIKES dimana2, PSIK berdiri. tapi coba tengok dosen2nya? teman saya pernah bergurau,dimana berkumpul 2-3 SKep,bisa berdiri akper. ketika 2-3 MSN (Masteral Nursing) berkumpul, berdirilah STIKES. jangan salah,malah ada STIKES yang dosen S2-nya cuma 2 orang. walahh, lulusan bagaimana yang diharapkan?

mohon agak panjang kang, tapi itu sedikit unek2 dari kami2 yang junior ini.

selanjutnya mohon ijin tulisannya kami copy paste di http://www.diskusiperawat.co.co

sekiranya berkenan mohon meluangkan waktu untuk berbagi info,pengalaman,tips,trik🙂 di weblog kami tersebut.

teman2 ada pendapat? silahkan isi bagian komentar dibawah.

salam,

http://www.diskusiperawat.co.cc

One Response to “Menunggu Revolusi Keperawatan di Indonesia”

  1. Febby said

    Saya adalah perawat lulusan SPK,di tempat saya bekerja dominan adalah lulusan D3 dan lulusan S.Kep msh bisa di hitung dgn jari.
    Jujur saya termotivasi,sejak dari dulu malahan. Sekarang dilema saya adalah apakah saya tega meninggalkan keluarga kecil dimana ada suami dan calon anak saya bilamana saya kuliah lagi? berhubung di tempat saya kalau mau kuliah mesti ke ibukota profinsi yg jaraknya 12 jam perjalanan? Belum lagi biaya untuk pendidikan yg bisa di bilang tidak murah!
    Saya mencoba untuk menggunakan sarana tugas belajar dari Pemda,tapi ternyata ada persyaratan2 yg mengharuskan saya ke golongan II/b dulu. Sekarang saya sudah II/b,tapi ternyata saya harus menjalani setahun dulu masa golongan kerja saya baru saya boleh mengikuti tubel. Bahkan permohonan saya untuk langsung ke pendidikan S1 keperawatan pun di tolak dgn alasan harus perjenjang dulu. Yg artinya saya di arahkan ke diploma III.
    Berarti bila saya mencoba membuat revolusi “titel” saya harus mengorbankan kurang lebih 3 tahun di D3 dan 5 tahun di S1. Kapan waktu saya buat keluarga? Dan bagaimana saya memperolah dana kepentingan kuliah bilamana permohonan tubel saya di tolak dgn alasan klise dari pemda?
    Jangan tanyakan niat,saya sangat ingin kuliah lagi. Tapi dgn dilema seperti saya sekarang apa yg bisa saya perbuat? Mohon solusi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: